JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menyentuh level US$119 per barel, memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Di tengah lonjakan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan langkah mencabut sebagian sanksi minyak terhadap Rusia.
Kebijakan ini muncul setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah memicu gangguan besar terhadap distribusi energi global. Ketegangan tersebut turut menyebabkan pasar minyak mengalami tekanan pasokan yang signifikan.
Beberapa sumber yang mengetahui pembahasan di Gedung Putih menyebut salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah mengizinkan negara tertentu membeli minyak Rusia tanpa takut terkena sanksi Amerika Serikat.
Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan pasokan minyak di pasar global. Dengan bertambahnya suplai, pemerintah Amerika Serikat berharap harga minyak dapat kembali stabil setelah mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak global saat ini menjadi perhatian serius pemerintah AS. Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi dan meningkatkan biaya produksi bagi berbagai sektor industri di dalam negeri.
Selain itu, harga bahan bakar yang tinggi juga dapat berdampak langsung pada konsumen Amerika. Kondisi ini menjadi isu sensitif menjelang pemilihan umum paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Trump sendiri menyatakan pemerintahannya tengah mengevaluasi sejumlah kebijakan sanksi terhadap beberapa negara. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar energi global.
Selain opsi pelonggaran sanksi Rusia, Gedung Putih juga mempertimbangkan berbagai langkah lain. Beberapa di antaranya termasuk intervensi di pasar berjangka minyak serta penghapusan sejumlah pajak federal yang berkaitan dengan energi.
Pemerintah Amerika Serikat juga membahas kemungkinan melepas cadangan minyak strategis bersama negara-negara anggota G7. Opsi ini dinilai dapat membantu meningkatkan pasokan minyak di tengah gangguan distribusi global.
Gangguan distribusi tersebut sebagian besar disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur laut sempit yang terletak di antara Iran dan Oman ini menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Selat Hormuz diketahui menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Penutupan jalur ini sejak akhir Februari menyebabkan lalu lintas kapal tanker minyak mengalami penurunan signifikan.
Para analis energi menilai pemerintah Amerika Serikat menghadapi pilihan kebijakan yang tidak mudah. Setiap opsi memiliki konsekuensi geopolitik dan ekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas pasar energi global.













