JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5% meski konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kian memanas. Proyeksi pertumbuhan diperkirakan tetap berada di kisaran 5% hingga 5,4%.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran pasar global. Harga energi berpotensi naik dan volatilitas keuangan meningkat, namun pemerintah menyebut dampaknya ke dalam negeri masih terukur.
Simulasi risiko yang dilakukan otoritas fiskal menunjukkan ekonomi nasional tetap berada di zona aman. Dalam skenario tekanan global yang memburuk sekalipun, pertumbuhan disebut tidak akan turun di bawah 5%.
Angka 5%–5,4% menjadi acuan karena mencerminkan batas psikologis stabilitas ekonomi Indonesia. Pertumbuhan di atas level itu dinilai cukup untuk menjaga daya beli, penciptaan lapangan kerja, serta stabilitas sosial.
Ketahanan ini disebut ditopang oleh manajemen makroekonomi yang semakin solid. Koordinasi fiskal, moneter, dan sektor riil dinilai lebih terintegrasi dibanding periode krisis sebelumnya.
Pemerintah juga menekankan pentingnya penguatan investasi domestik. Peran Badan Pengelola Investasi Danantara diklaim menjadi salah satu motor penggerak baru dalam menopang pembiayaan proyek strategis nasional.
Dengan skema tersebut, fokus pemerintah dapat diarahkan ke konsumsi rumah tangga dan belanja negara. Dua komponen ini selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah dan menengah bawah, terus dijaga melalui berbagai program perlindungan sosial dan stimulus. Langkah ini dinilai krusial agar daya beli tidak tergerus tekanan eksternal.
Belanja pemerintah juga tetap dioptimalkan untuk menjaga aktivitas ekonomi daerah. Proyek infrastruktur, bantuan sosial, hingga belanja kementerian dan lembaga diarahkan agar memberi efek berganda terhadap ekonomi lokal.
Di sisi lain, investasi asing tetap diperhitungkan sebagai tambahan dorongan pertumbuhan. Namun pemerintah menilai ketergantungan terhadap arus modal luar kini tidak sebesar sebelumnya.
Meski begitu, risiko global tetap diwaspadai. Lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian pasar keuangan bisa memberi tekanan jika konflik berkepanjangan.
Untuk saat ini, arah kebijakan difokuskan pada menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Pemerintah ingin memastikan bahwa gejolak eksternal tidak langsung mengganggu fundamental ekonomi nasional.
Di tengah ketidakpastian global, optimisme terhadap pertumbuhan 5,4% menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi domestik dinilai cukup kuat. Tantangannya kini adalah menjaga momentum tersebut agar tidak goyah oleh dinamika geopolitik.













