Melihat Ulang Perilaku Konsumen Dalam Memasarkan Produk

faktor perilaku konsumen
sumber: pexels.com

Perhatikan Faktor Perilaku Konsumen Untuk Meningkatkan Penjualan

Faktor Perilaku konsumen tidak banyak dibahas secara teknis oleh berbagai website, padahal dalam pemasaran kita akan belajar tentang perilaku konsumen, maka dari itu jasa-jasa pemasaran menyediakan data tentang gender, usia, interest (ketertarikan), dan perilaku.

Tujuan mereka menyediakan data begitu lengkap agar kita dapat melihat dengan jelas pasar yang akan kita masuki atau berjuang dalam ganasnya persaingan bisnis, sering kali pandangan kita luput pada perilaku, padahal perilaku memiliki pengaruh perbesar dalam pembelian.

Mengapa Kita Perlu Melihat Data Perilaku Konsumen?

Pada era digital saat ini, data menjadi hal yang amat berarti, kita dapat membuktikan hal tersebut dengan melihat seberapa besar perusahaan teknologi saat ini, terutama bisnis yang berfokus kepada konsumen (bussiness to costumer) seperti Google, Facebook, dan Amazon.

Semua contoh yang dituliskan berasal dari luar Indonesia, karena mereka lah yang dapat memanfaatkan data konsumen mereka dengan baik.

Pandangan pada zaman dahulu melihat perilaku konsumen tidak dapat ditebak sehingga hal tersebut tidak dapat dijadikan faktor penting untuk mengembangkan produk, memasarkan produk, dan menentukan target pasar.

Namun, saat ini sudah berbeda, kita dapat menggunakan data-data konsumen sebagai faktor untuk meningkatkan penjualan.

Teoritis Perilaku konsumen

Berbagai ahli mengungkapkan faktor-faktor perilaku yang dapat mempengaruhi pembelian ada empat, yaitu:

  1. Budaya
  2. Pribadi
  3. Sosial
  4. Psikologi

Empat faktor di atas, sangat sering terlupakan oleh kita sebagai pembisnis, terutama para pembisnis pemula yang mencoba untuk mengembangkan bisnis basis ide, inovatif, dan keunikan produk.

Perusahaan-perusahaan besar, sudah sadar akan pentingnya keempat hal tersebut dalam menjangkau pasar dan menaikan penjualan, sebagai contoh McDonald atau yang sering kita ucapkan (mekdi) membuat terobosan berupa pengenalan produk baru mereka yaitu “nasi uduk” karena latar belakang budaya kita.

Namun, beberapa kesalahan perusahaan besar seperti Sari Roti kemarin yang menegaskan secara gamblang tidak ikut sertanya dalam peristiwa aksi massa di Jakarta, mengakibatkan saham dan penjualan mereka menurun, bukan berarti langkah mereka salah, padahal jika tidak dikonfirmasi pun, mereka tidak akan dirugikan dari sisi citra, karena memang mereka bukan pendukung pengunjuk rasa.

Kembali lagi, faktor perilaku konsumen harus lah diperhatikan oleh kita, dengan mempertimbangkan dengan bijak dan menerapkannya dengan tepat, produk dari bisnis kita dapat dengan mudah memenangkan pasar.

Inti dari pemasaran kan tentang bagaimana kita dapat memuaskan mereka, sehingga sudah seharusnya begitu, kita memasarkan produk kita secara lebih humanis, tidak brutal-membabi buta tanpa pandang bulu, seperti beberapa bisnis MLM yang terkadang memaksakan anggotanya untuk memasarkan produk secara tidak fair.

Budaya Dalam Bisnis di Indonesia

Indonesia dikenal dengan negara dan bangsa yang kaya akan budaya, hingga sekarang slogan “bhineka tunggal ika” masih menjadi dasar negara kita untuk berdiri, maka dari itu faktor budaya sangat lah mempengaruhi perilaku konsumen kita untuk membeli.

80% lebih penduduk Indonesia memeluk islam, sehingga budaya asli Indonesia sering kali terpengaruhi oleh budaya agama islam, memandang hal tersebut setidaknya kita juga memikirkan untuk memasarkan sesuai dengan budaya masyarakat dan aturan islam.

Pada tahun 2010 hingga saat ini, perkembangan bank syariah sungguh pesat, itu tidak terlepas dari faktor budaya, sebagai bukti kita dapat melihat berbagai negara di seluruh dunia, apakah pertumbuhan bank syariah lebih baik atau sama dengan Indonesia?

Pada tingkat bisnis yang lebih kecil lagi, kita dapat menerapkan pada produk kita, seperti penamaan produk yang menyerempet kepada budaya indonesia, seperti “ayam bakar solo”, “soto khas betawi”, “nasi uduk jakarta”. Penggunaan kata daerah populer untuk bisnis karena dapat menggiring pembeli yang punya pengalaman dengan daerah tersebut.

Faktor Pribadi Dalam Peningkatan Penjualan

Bocornya data pribadi pada platform facebook di tahun 2018 mengakibatkan saham yang anjlok hingga rentetan boikot dan aksi penolakan terhadap facebook, melihat kasus facebook kita seharusnya yakin bahwa data pribadi menjadi hal yang sangat berharga.

Maka dari itu, perlu juga kita menyesuaikan bisnis dengan pribadi-pribadi pembeli kita, sebagai contoh, katakan saja si A adalah orang yang cerewet, kita sebagai penjual perlu melayani pembeli kita si A dengan mengajak dia ngobrol, sekedar untuk memberikan kenyamanan si pelanggan dalam pembelian.

Personalisasi pada produk akan menarik pembeli, dalam benak para pembeli mungkin mereka akan berkata “itu aku banget” karena faktor kesamaan pada pribadi mereka dapat membuat mereka ingin membeli produk yang kita tawarkan.

Faktor Sosial Dalam Pemasaran Produk

Masyarakat Indonesia masih sama untuk mempertimbangkan pembelian, masih melihat faktor sosial mereka, di dalam lingkaran mana mereka bergaul dan berinteraksi, pergaulan dan interkasi sosial mempengaruhi prefrensi mereka, barang dan produk mana saja yang harus dan tidak boleh mereka beli.

Pada kasus terkecil saja, dalam lingkaran keluarga ada kalanya suami takut membeli barang yang ingin mereka beli karena faktor preferensi dari istri, lalu anak yang ingin beli permen dilarang oleh ibu mereka karena dianggap dapat menyebabkan batuk.

Mempelajari faktor sosial sangatlah membingungkan, karena ini lebih kepada prediksi dan juga pengalaman, untuk melihat faktor sosial potensial, setidaknya kita perlu seorang analisis yang handal, namun jika kita sebagai seorang pembisnis sudah memiliki analisis yang tajam untuk faktor sosial ini, tidak usah untuk menyewa agar lebih hemat.

Membidik faktor sosial lebih baik dengan membidik secara luas, karena yang spesifik lebih sulit, seperti kita membidik faktor gaya hidup saja, dari pada harus membidik cara komunikasi produk yang sangat mirip pada suatu kelompok pergaulan.

Faktor Psikologi untuk Menggiring Konsumen

Terakhir ada faktor psikologi, jika faktor-faktor sebelumnya berbicara penyesuaian dan prediksi tidak dengan faktor psikologi, faktor ini lah yang dapat diciptakan oleh kita untuk mengarahkan konsumen kita untuk membeli.

Kalo bicara tentang psikologi, kita bicara mental, persepsi, pemikiran dan hal-hal yang ada di dalam diri seseorang untuk dirangsang dalam hal kejiwaan, maka dari itu, sangat kuat sekali jika kita dapat mempengaruhi konsumen kita.

Contoh penggunaan faktor psikologi yang paling sering terjadi adalah pada slogan iklan seperti “apa pun makannya, minumnya teh sosro”, kalimat tersebut mengandung ajakan dan penanaman persepsi kepada konsumen agar setelah makan minum teh botol sosro, dan hal itu sukses besar.

Pemasaran Klasik Yang Perlu Diperbaharui

Ada model-model pemasaran klasik, seperti penyebaran brosur kepada calon pembeli, walaupun tidak salah, namun efesiensi dari yang dihasilkan dari pemasaran model seperti ini menjadi kurang di saat era digital hadir.

Walaupun peran manusia dalam pemasaran masih tidak tergantikan, namun dalam efesiensi penggunaan pemasaran berdasarkan pemograman, sistem informasi, dan data semakin memberikan efek yang lebih efisien, ini karena adanya personalisasi dan faktor perilaku konsumen yang telah disentuh dengan tepat.

Semakin maju kita saat ini dan ke depannya seharusnya semakin kita mendekati konsep pemasaran yang ideal, yaitu memasarkan berdasarkan kepuasan konsumen, faktor kepuasan dapat membuat bisnis anda berkembang dengan baik.

Sebuah riset mengatakan bahwa “ada 52% konsumen yang akan beralih jika produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan personalisasi mereka” anda dapat melihat sumber di sini, berarti sesungguhnya konsumen menginginkan produk yang memiliki kesamaan dengan personalisasi mereka, entah dari faktor budaya, sosial, pribadi atau pun psikologi, sehingga perlu kita sadari, kita perlu modifikasi dan kembali menganalisis bagaimana taknik dan strategi pemasaran kita.

salam cobisnis.com

Related Post

Bantu Bagikan Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *